Renungan Malam 220826
NASKAH KHOTBAH 40 MENIT
1 TAWARIKH 5
“Allah Tetap Memegang Janji-Nya, Tetapi Berkat Perjanjian
Menuntut Kesetiaan.”
Ayat
Kunci: 1
Tawarikh 5:20, 25–26
PENDAHULUAN — KETIKA BERKAT TIDAK LAGI MEMBUAT KITA INGAT
TUHAN
Saudara-saudara
yang dikasihi Tuhan,
Ada
sesuatu yang sangat berbahaya dalam kehidupan iman.
Bukan
hanya ketika kita sedang menderita.
Bukan
hanya ketika kita sedang gagal.
Bukan
hanya ketika musuh datang menyerang.
Tetapi
justru ketika kita sudah diberkati.
Ketika
hidup mulai baik.
Ketika
doa dijawab.
Ketika
usaha berkembang.
Ketika
keluarga dipulihkan.
Ketika
anak-anak berhasil.
Ketika
pelayanan berkembang.
Ketika
gereja bertambah.
Ketika
Tuhan memberikan apa yang selama ini kita minta.
Di
situlah muncul pertanyaan:
Apakah
berkat membuat kita semakin dekat kepada Tuhan, atau justru semakin jauh dari
Tuhan?
Sebab
ada orang yang ketika susah berkata:
“Tuhan,
saya membutuhkan-Mu!”
Tetapi
ketika sudah berhasil berkata:
“Saya
bisa sendiri.”
Ketika
sakit:
“Tuhan,
sembuhkan saya!”
Tetapi
ketika sehat:
“Saya
tidak punya waktu untuk Tuhan.”
Ketika
tidak punya uang:
“Tuhan,
cukupkan kebutuhan saya.”
Tetapi
ketika berlimpah:
“Ini
hasil kerja keras saya.”
Inilah
yang hendak dibongkar oleh 1 Tawarikh 5.
Pasal
ini berbicara tentang Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye.
Mereka
memiliki sejarah.
Mereka
memiliki wilayah.
Mereka
memiliki kekuatan.
Mereka
memiliki pasukan.
Mereka
pernah mengalami kemenangan.
Mereka
pernah mengalami pertolongan Tuhan.
Tetapi
kemudian mereka menjadi tidak setia kepada Tuhan.
Dan
akhirnya mereka mengalami pembuangan.
Karena
itu tema kita hari ini:
“ALLAH TETAP MEMEGANG JANJI-NYA,
TETAPI BERKAT PERJANJIAN MENUNTUT KESETIAAN.”
Saudara,
Allah
setia.
Tetapi
jangan pernah mengartikan kesetiaan Allah sebagai izin bagi kita untuk hidup
tidak setia.
I. ALLAH TETAP BEKERJA MESKIPUN
MANUSIA GAGAL
1 Tawarikh 5:1–2
Kita
mulai dengan Ruben.
Ruben
adalah anak sulung Yakub.
Secara
manusia, Ruben mempunyai posisi istimewa.
Anak
pertama.
Anak
sulung.
Seharusnya
mendapatkan hak kesulungan.
Tetapi
Alkitab mengatakan bahwa Ruben kehilangan hak kesulungannya karena ia
mencemarkan tempat tidur ayahnya.
Dosa
Ruben mempunyai konsekuensi.
Namun
perhatikan:
Kegagalan
Ruben tidak membuat Allah gagal.
Allah
tetap meneruskan rencana-Nya.
Hak
kesulungan diberikan kepada keturunan Yusuf.
Kepemimpinan
kerajaan diberikan kepada Yehuda.
Allah
tetap bekerja melalui sejarah yang penuh dengan kegagalan manusia.
Ini
penting bagi kita.
Kadang-kadang
kita melihat hidup kita dan berkata:
“Saya
sudah gagal.”
“Keluarga
saya sudah rusak.”
“Saya
pernah mengambil keputusan yang salah.”
“Saya
pernah jatuh.”
“Saya
pernah jauh dari Tuhan.”
Tetapi
dengarkan firman Tuhan:
Kegagalanmu
bukan akhir dari pekerjaan Allah.
Manusia
bisa gagal.
Pemimpin
bisa gagal.
Orang
tua bisa gagal.
Anak-anak
bisa gagal.
Gereja
bisa gagal.
Tetapi
Allah tidak pernah gagal.
Saudara, ini adalah penghiburan besar!
Allah
tidak bergantung kepada kesempurnaan kita untuk menggenapi rencana-Nya.
Namun
jangan salah mengerti.
Kalau
Allah tetap setia meskipun manusia gagal, itu bukan berarti dosa tidak penting.
Justru
1 Tawarikh 5 memperlihatkan bahwa:
dosa
mempunyai konsekuensi.
Ruben
kehilangan hak kesulungan.
Karena
itu:
Anugerah
Allah tidak pernah menjadi alasan untuk meremehkan kekudusan Allah.
II. BERKAT ALLAH ADALAH ANUGERAH,
BUKAN ALASAN UNTUK SOMBONG
1 Tawarikh 5:11–16
Kemudian
kita melihat Gad dan setengah Manasye.
Mereka
mendapatkan wilayah di sebelah timur Yordan.
Mereka
mempunyai tanah.
Mereka
mempunyai ternak.
Mereka
mempunyai keluarga.
Mereka
berkembang.
Mereka
menjadi kuat.
Tetapi
saudara,
jangan
pernah lupa dari mana berkat itu datang.
Tanah
itu bukan sekadar hasil kemampuan mereka.
Wilayah
itu adalah bagian dari pemberian Allah.
Inilah
penyakit manusia:
Ketika
belum memiliki sesuatu, kita berkata:
“Tuhan,
kalau Engkau memberikan saya ini, saya akan bersyukur.”
Tetapi
setelah mendapatkannya:
“Ini
karena saya pintar.”
Ketika
belum memiliki rumah:
“Tuhan,
berikan saya rumah.”
Setelah
rumah ada:
“Rumah
ini hasil kerja keras saya.”
Ketika
belum mempunyai jabatan:
“Tuhan,
berikan kesempatan.”
Setelah
jabatan diberikan:
“Saya
memang pantas.”
Ketika
belum punya pelayanan:
“Tuhan,
pakailah saya.”
Setelah
dipakai:
“Tanpa
saya, pelayanan ini tidak akan berjalan.”
Saudara,
berkat
yang seharusnya membawa kita kepada penyembahan bisa berubah menjadi alasan
untuk kesombongan.
Karena
itu kita harus terus mengingat:
Berkat
adalah pemberian.
Bukan
prestasi.
Bukan
hak yang boleh kita tuntut.
Bukan
alasan untuk melupakan Sang Pemberi.
III. KETIKA KITA BERSERU DAN
PERCAYA, ALLAH BERTINDAK
1 Tawarikh 5:18–22
Sekarang
kita sampai pada bagian yang sangat indah.
Ruben,
Gad dan setengah Manasye mempunyai pasukan yang kuat.
Mereka
memiliki 44.760 orang prajurit.
Mereka
memiliki perisai.
Pedang.
Busur.
Mereka
terlatih.
Secara
militer mereka bukan kelompok yang lemah.
Tetapi
Alkitab tidak berhenti pada kemampuan mereka.
Ayat
20 berkata bahwa:
mereka
berseru kepada Allah dalam peperangan.
Dan
mereka percaya kepada-Nya.
Kemudian
Allah mengabulkan permohonan mereka.
Saudara,
inilah
rahasia kemenangan mereka.
Bukan
karena mereka tidak mempunyai kekuatan.
Tetapi
karena mereka tahu:
kekuatan
mereka tidak cukup tanpa Tuhan.
Mereka
berperang.
Tetapi
mereka berdoa.
Mereka
mempunyai strategi.
Tetapi
mereka percaya.
Mereka
mempunyai senjata.
Tetapi
mereka bergantung kepada Allah.
Inilah
iman yang sehat.
Iman
bukan berarti:
“Saya
tidak perlu melakukan apa-apa.”
Tidak!
Mereka
tetap berperang.
Mereka
tetap menggunakan kemampuan.
Mereka
tetap mempersiapkan diri.
Tetapi
di balik semua usaha itu ada pengakuan:
“Tuhan,
tanpa Engkau kami tidak mampu.”
Saudara,
gereja
boleh punya program.
Gereja
boleh punya gedung.
Gereja
boleh punya organisasi.
Gereja
boleh punya teknologi.
Gereja
boleh punya sumber daya.
Tetapi
jangan pernah sampai gereja berkata:
“Kita
bisa tanpa Tuhan.”
Keluarga
boleh punya pendidikan.
Punya
pekerjaan.
Punya
penghasilan.
Punya
rumah.
Punya
masa depan.
Tetapi
jangan sampai keluarga berkata:
“Kami
tidak membutuhkan Tuhan.”
Pemimpin
boleh mempunyai pengalaman.
Pendidikan.
Jabatan.
Strategi.
Tetapi
jangan sampai berkata:
“Saya
bisa memimpin tanpa Tuhan.”
Karena
itu:
Kekuatan terbesar umat Tuhan bukanlah
kemampuan untuk berdiri sendiri, tetapi kerendahan hati untuk bergantung kepada
Tuhan.
IV. KEMENANGAN MASA LALU TIDAK
MENJAMIN KESETIAAN MASA DEPAN
1 Tawarikh 5:23–25
Sekarang
kita sampai pada bagian yang menyakitkan.
Mereka
pernah menang.
Mereka
pernah mengalami pertolongan Allah.
Mereka
pernah berseru kepada Tuhan.
Mereka
pernah melihat tangan Tuhan.
Tetapi
kemudian ayat 25 berkata:
“Tetapi
mereka berubah setia terhadap Allah nenek moyang mereka.”
Inilah
tragedinya.
Orang
yang pernah mengalami Tuhan bisa berubah setia kepada Tuhan.
Saudara,
jangan
berpikir:
“Karena
saya pernah mengalami mukjizat, saya pasti aman.”
Tidak!
Jangan
berpikir:
“Karena
dulu saya aktif melayani, saya pasti tetap dekat dengan Tuhan.”
Tidak!
Jangan
berpikir:
“Karena
dulu Tuhan memakai saya, saya tidak mungkin jatuh.”
Tidak!
Justru
pengalaman masa lalu harus membuat kita semakin rendah hati.
Karena:
Kemenangan
kemarin tidak menggantikan kesetiaan hari ini.
Doa
kemarin tidak menggantikan doa hari ini.
Firman
kemarin tidak menggantikan ketaatan hari ini.
Pengalaman
rohani kemarin tidak menggantikan hubungan dengan Tuhan hari ini.
Saudara,
ada
orang yang hidup dari kenangan:
“Dulu
Tuhan pernah menolong saya.”
Pertanyaannya:
Bagaimana
hubunganmu dengan Tuhan sekarang?
Ada
yang berkata:
“Dulu
saya rajin ke gereja.”
Pertanyaannya:
Apakah
hari ini engkau masih mencintai Tuhan?
Ada
yang berkata:
“Dulu
saya aktif pelayanan.”
Pertanyaannya:
Apakah
hatimu masih menyembah Tuhan?
Ada
yang berkata:
“Dulu
saya sangat dekat dengan Tuhan.”
Pertanyaannya:
Apakah
hari ini engkau masih berjalan bersama-Nya?
Jangan
hidup dari masa lalu.
Datanglah
kepada Tuhan hari ini.
V. KETIDAKSETIAAN KEPADA ALLAH AKAN
MEMBAWA KITA MENJAUH DARI BERKAT PERJANJIAN
1 Tawarikh 5:25–26
Ayat
25 mengatakan mereka berubah setia kepada Allah nenek moyang mereka.
Mereka
mengikuti ilah-ilah bangsa lain.
Dan
akhirnya Tuhan menyerahkan mereka ke tangan bangsa Asyur.
Inilah
akibatnya.
Mereka
yang dahulu menang akhirnya dibuang.
Mereka
yang dahulu kuat akhirnya kehilangan tanah.
Mereka
yang dahulu menikmati berkat akhirnya mengalami kehancuran.
Perhatikan:
Masalah
mereka bukan kekurangan kekuatan.
Masalah
mereka adalah:
ketidaksetiaan.
Mereka
tidak kehilangan Tuhan karena Tuhan berubah.
Mereka
kehilangan kenikmatan atas berkat perjanjian karena mereka berubah setia.
Saudara,
jangan
pernah bermain-main dengan kompromi.
Dosa
kecil yang dipelihara akan menjadi dosa besar.
Kompromi
kecil yang dibiarkan akan menjadi gaya hidup.
Hari
ini berkata:
“Tidak
apa-apa.”
Besok
menjadi kebiasaan.
Lusa
menjadi karakter.
Akhirnya
menjadi kehancuran.
Itulah
sebabnya gereja harus berani berkata:
Tidak
kepada dosa.
Keluarga
harus berani berkata:
Tidak
kepada kompromi.
Anak-anak
muda harus berani berkata:
Tidak
kepada tekanan dunia.
Pemimpin
harus berani berkata:
Tidak
kepada korupsi hati.
Karena
kita tidak dipanggil hanya untuk menerima berkat.
Kita
dipanggil untuk hidup setia kepada Sang Pemberi berkat.
VI. BERKAT PERJANJIAN MENUNTUT
KESETIAAN
Saudara,
sekarang
kita sampai kepada inti tema kita.
Allah tetap memegang janji-Nya.
Allah
tidak berubah.
Allah
tidak berdusta.
Allah
tidak meninggalkan umat-Nya.
Tetapi
berkat perjanjian bukan alasan untuk hidup seenaknya.
Berkat
perjanjian menuntut:
kesetiaan.
Apa
artinya?
Dalam keluarga:
Jangan
hanya berdoa supaya anak-anak berhasil.
Berdoalah
agar mereka mengenal Tuhan.
Jangan
hanya mewariskan rumah.
Wariskan
iman.
Jangan
hanya meninggalkan uang.
Tinggalkan
teladan.
Jangan
hanya berkata:
“Nak,
jadilah orang sukses.”
Katakan:
“Nak,
jadilah orang yang takut akan Tuhan.”
Karena
lebih baik anak hidup sederhana tetapi berjalan bersama Tuhan daripada hidup
berlimpah tetapi kehilangan Tuhan.
Dalam gereja:
Jangan
hanya mengejar gereja yang besar.
Kejar
gereja yang setia.
Jangan
hanya mengejar banyak program.
Kejar
kehidupan yang kudus.
Jangan
hanya membangun gedung.
Bangun
karakter.
Jangan
hanya memperbesar organisasi.
Perbesar
hati untuk melayani.
Karena
gereja yang besar tetapi kehilangan Tuhan adalah gereja yang kehilangan
pusatnya.
Bagi pemimpin:
Jangan
hanya menjaga jabatan.
Jaga
hati.
Jangan
hanya mempertahankan pengaruh.
Pertahankan
integritas.
Jangan
hanya mengejar keberhasilan pelayanan.
Jaga
kehidupan doa.
Karena:
Allah
lebih tertarik kepada siapa kita di hadapan-Nya daripada seberapa hebat kita
terlihat di hadapan manusia.
Bagi generasi muda:
Jangan
ukur masa depan hanya dengan:
IPK.
Pekerjaan.
Gaji.
Rumah.
Kendaraan.
Followers.
Prestasi.
Semua
itu penting pada tempatnya.
Tetapi
ada satu pertanyaan yang lebih penting:
“Apakah
saya tetap berjalan bersama Tuhan?”
Karena
dunia dapat memberikan banyak hal kepada kita.
Tetapi
dunia tidak dapat memberikan keselamatan.
Dunia
dapat memberikan popularitas.
Tetapi
dunia tidak dapat memberikan damai sejahtera sejati.
Dunia
dapat memberikan uang.
Tetapi
dunia tidak dapat memberikan kehidupan kekal.
Maka:
Jangan
tukarkan Tuhan dengan apa pun yang Tuhan ciptakan.
VII. KRISTUS ADALAH JAMINAN
KESETIAAN ALLAH
Saudara,
1
Tawarikh 5 akhirnya membawa kita kepada kebutuhan yang lebih besar.
Ruben
gagal.
Israel
gagal.
Para
raja gagal.
Umat
Tuhan berulang kali gagal.
Kalau
keselamatan bergantung kepada kesetiaan manusia, kita semua tidak mempunyai
harapan.
Tetapi
puji Tuhan!
Keselamatan
kita tidak berdiri di atas kesempurnaan manusia.
Keselamatan
berdiri di atas kesetiaan Allah.
Di
dalam Yesus Kristus kita melihat Anak yang sempurna.
Dia
taat ketika manusia tidak taat.
Dia
setia ketika manusia tidak setia.
Dia
bertahan sampai salib.
Dia
mati bagi dosa.
Dia
bangkit mengalahkan maut.
Karena
itu janji Allah mencapai kepenuhannya di dalam Kristus.
Saudara,
kita
boleh gagal, tetapi jangan lari dari Tuhan.
Kalau
jatuh, bangun.
Kalau
berdosa, bertobat.
Kalau
jauh, pulang.
Kalau
lemah, berseru.
Kalau
kehilangan arah, kembali kepada Firman.
Karena
Tuhan yang memegang janji-Nya masih membuka jalan bagi kita untuk kembali.
VIII. PANGGILAN UNTUK HIDUP SETIA
Saudara-saudara
yang dikasihi Tuhan,
Hari
ini firman Tuhan menanyakan kepada kita:
Apa yang sedang kita lakukan dengan berkat Tuhan?
Apakah
berkat membuat kita semakin dekat?
Ataukah
semakin jauh?
Apakah
keberhasilan membuat kita semakin rendah hati?
Ataukah
semakin sombong?
Apakah
pengalaman pertolongan Tuhan membuat kita semakin percaya?
Ataukah
membuat kita merasa tidak membutuhkan Tuhan?
Mari
kita periksa kehidupan kita.
Mungkin
ada keluarga yang sedang diberkati.
Jangan
lupa Tuhan.
Mungkin
ada yang sedang berhasil.
Jangan
lupa Tuhan.
Mungkin
ada yang sedang naik.
Jangan
lupa Tuhan.
Mungkin
pelayanan sedang berkembang.
Jangan
lupa Tuhan.
Mungkin
bisnis sedang maju.
Jangan
lupa Tuhan.
Mungkin
anak-anak sedang berhasil.
Jangan
lupa Tuhan.
Sebab
semua yang kita miliki berasal dari Dia.
PENUTUP — JANGAN HANYA MENERIMA
BERKAT, TETAPI JADILAH UMAT YANG SETIA
Saudara,
1
Tawarikh 5 dimulai dengan manusia yang kehilangan hak kesulungan.
Kemudian
kita melihat umat yang memperoleh wilayah.
Kita
melihat tentara yang menang.
Kita
melihat orang-orang yang diberkati.
Tetapi
kemudian kita melihat ketidaksetiaan.
Dan
akhirnya pembuangan.
Pesannya
jelas:
Jangan
mengukur hubunganmu dengan Tuhan berdasarkan berkat yang engkau terima.
Karena
seseorang bisa diberkati tetapi tidak setia.
Seseorang
bisa sukses tetapi jauh dari Tuhan.
Seseorang
bisa memiliki banyak tetapi kehilangan yang paling penting.
Karena
itu hari ini Tuhan memanggil kita:
Bukan hanya untuk menjadi umat yang diberkati, tetapi umat
yang setia.
Bukan
hanya:
“Tuhan,
berkatilah saya.”
Tetapi:
“Tuhan,
ajarlah saya setia.”
Bukan
hanya:
“Tuhan,
bukakan pintu.”
Tetapi:
“Tuhan,
ketika pintu terbuka, jangan biarkan saya melupakan-Mu.”
Bukan
hanya:
“Tuhan,
berikan kemenangan.”
Tetapi:
“Tuhan,
ketika saya menang, jagalah hati saya agar tetap menyembah-Mu.”
Dan
bukan hanya:
“Tuhan,
berikan saya masa depan.”
Tetapi:
“Tuhan,
jadikan saya orang yang tetap berjalan bersama-Mu sampai akhir.”
AJAKAN ALTAR CALL
Saudara,
mungkin
hari ini ada yang berkata:
“Tuhan,
saya pernah dekat dengan-Mu, tetapi sekarang saya jauh.”
Pulanglah.
Mungkin
ada yang berkata:
“Tuhan,
berkat-Mu begitu banyak, tetapi saya mulai melupakan-Mu.”
Bertobatlah.
Mungkin
ada yang berkata:
“Tuhan,
saya sedang berada di puncak keberhasilan.”
Tetaplah
rendah hati.
Mungkin
ada yang berkata:
“Tuhan,
saya sedang berada dalam kegagalan.”
Jangan
menyerah.
Karena
Tuhan yang sama yang memegang sejarah Israel adalah Tuhan yang memegang hidup
kita.
Allah tetap memegang janji-Nya.
Tetapi
hari ini Dia memanggil kita:
“Tetaplah setia kepada-Ku.”
Jangan
tinggalkan Tuhan demi berkat.
Jangan
tinggalkan Tuhan demi jabatan.
Jangan
tinggalkan Tuhan demi uang.
Jangan
tinggalkan Tuhan demi popularitas.
Jangan
tinggalkan Tuhan demi kenyamanan.
Jangan
tinggalkan Tuhan demi apa pun.
Sebab:
Lebih
baik kehilangan berkat tetapi tetap memiliki Tuhan, daripada memiliki semua
berkat tetapi kehilangan Tuhan.
Dan
ketika kita setia, kita dapat berkata:
“Tuhan,
apa pun yang terjadi, saya tetap percaya.
Apa pun yang hilang, saya tetap menyembah.
Apa pun yang berubah, saya tetap berpegang pada-Mu.
Sebab Engkau setia kepada janji-Mu, dan saya mau setia kepada-Mu sampai akhir.”
DOA PENUTUP
Tuhan
Allah Bapa kami,
Kami
bersyukur karena Engkau adalah Allah yang setia.
Ketika
kami gagal, Engkau tidak berubah.
Ketika
kami jatuh, tangan-Mu masih terbuka.
Ketika
kami tersesat, firman-Mu masih memanggil kami pulang.
Ampuni
kami apabila berkat membuat kami melupakan-Mu.
Ampuni
kami apabila keberhasilan membuat kami sombong.
Ampuni
kami apabila kami lebih mencintai pemberian-Mu daripada diri-Mu sendiri.
Ajarlah
kami menjadi keluarga yang setia.
Jadikan
gereja-Mu gereja yang setia.
Jadikan
para pemimpin umat-Mu pemimpin yang takut akan Tuhan.
Jaga
generasi muda agar tidak menjual iman mereka demi kesenangan dunia.
Dan
ketika Engkau memberkati kami,
jangan
biarkan berkat itu menjauhkan kami dari-Mu.
Ketika
Engkau mengangkat kami,
buatlah
kami semakin rendah hati.
Ketika
Engkau memberi kemenangan,
buatlah
kami semakin banyak bersyukur.
Ketika
Engkau memberi kelimpahan,
buatlah
kami semakin murah hati.
Dan
ketika kami berada dalam lembah,
buatlah
kami tetap percaya.
Kami
menyerahkan hidup, keluarga, gereja, pekerjaan dan masa depan kami ke dalam
tangan-Mu.
Sebab
kami percaya:
Engkau tetap memegang janji-Mu.
Dan
kami berkomitmen:
Kami mau tetap setia kepada-Mu.
Di
dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami.
Amin.
KALIMAT PENUTUP UNTUK MIMBAR
“Berkat
bukan bukti bahwa kita lebih hebat; berkat adalah bukti bahwa Allah begitu
baik. Karena itu, jangan biarkan tangan yang menerima berkat lebih sibuk
daripada hati yang menyembah Sang Pemberi berkat.”
ALLAH SETIA MEMEGANG JANJI-NYA — MARI KITA SETIA MEMEGANG
ALLAH!
AKRONIM SEJARAH
1 Tawarikh 5
“Allah Tetap Memegang Janji-Nya, Tetapi Berkat Perjanjian
Menuntut Kesetiaan.”
Akronim
SEJARAH sangat cocok untuk 1 Tawarikh 5 karena pasal ini memang
berbicara tentang sejarah keturunan, kegagalan, kemenangan, berkat,
ketidaksetiaan, dan pembuangan.
S — SETIA PADA PERJANJIAN
1
Tawarikh 5:1–2
Ruben
kehilangan hak kesulungan karena ketidaksetiaan dan dosanya. Ini mengingatkan
bahwa menjadi bagian dari umat Allah bukan sekadar memiliki identitas, tetapi
harus hidup dalam kesetiaan.
Identitas
sebagai umat Tuhan harus dibuktikan melalui kehidupan yang setia kepada Tuhan.
Aplikasi: Jangan hanya bangga sebagai
orang Kristen; hiduplah sebagai orang yang setia kepada Kristus.
E — ELING AKAN SUMBER BERKAT
1
Tawarikh 5:11–16
Ruben,
Gad, dan Manasye memperoleh wilayah, keturunan, ternak, dan kekuatan.
Namun
semua itu berasal dari Tuhan.
Jangan
sampai kita begitu menikmati berkat sehingga melupakan Sang Pemberi berkat.
Aplikasi: Setiap kali menerima
keberhasilan, katakan:
“Ini bukan hanya hasil tanganku; ini adalah kemurahan Tuhan.”
J — JANGAN TAKUT, BERSERULAH KEPADA ALLAH
1
Tawarikh 5:18–20
Ketika
menghadapi peperangan, mereka berseru kepada Allah.
Mereka
memiliki tentara dan senjata, tetapi mereka tidak mengandalkan kekuatan
manusia.
Iman
bukan berarti tidak memiliki kekuatan; iman berarti mengetahui bahwa kekuatan
kita tidak cukup tanpa Tuhan.
Aplikasi: Ketika masalah datang,
jangan pertama-tama panik—berserulah kepada Tuhan.
A — ANDALKAN TUHAN DALAM KEMENANGAN
1
Tawarikh 5:20–22
Mereka
menang karena mereka percaya kepada Allah.
Perhatikan:
Mereka
berseru → mereka percaya → Allah menolong → mereka menang.
Jadi
kemenangan bukan alasan untuk menyombongkan diri.
Kemenangan
adalah kesempatan untuk semakin memuliakan Tuhan.
Aplikasi: Setelah Tuhan memberi
kemenangan, jangan berkata,
“Saya hebat.”
Katakan:
“Tuhanlah
yang menolong saya.”
R — RAWAT KESETIAAN SETELAH DIBERKATI
1
Tawarikh 5:23–25
Ini
bagian paling serius.
Mereka
pernah mengalami pertolongan Tuhan.
Mereka
pernah menang.
Mereka
pernah diberkati.
Tetapi
kemudian mereka berubah setia kepada Allah.
Kemenangan
kemarin tidak menjamin kesetiaan hari ini.
Jangan
hidup hanya dari pengalaman rohani masa lalu.
Jangan
berkata:
“Dulu
saya dekat dengan Tuhan.”
Pertanyaannya:
“Bagaimana hubungan saya dengan Tuhan hari ini?”
Aplikasi: Rawat doa. Rawat firman.
Rawat persekutuan. Rawat kekudusan.
A — AKIBAT KETIDAKSETIAAN ADALAH KEHANCURAN
1
Tawarikh 5:25–26
Karena
mereka meninggalkan Tuhan dan mengikuti ilah-ilah lain, Allah mengizinkan
mereka dibuang ke tangan Asyur.
Mereka
yang pernah mengalami kemenangan akhirnya mengalami pembuangan.
Inilah
peringatan keras:
Jangan
menukar Tuhan dengan apa pun yang Tuhan ciptakan.
Harta
bisa hilang.
Jabatan
bisa hilang.
Kekuatan
bisa hilang.
Popularitas
bisa hilang.
Tetapi
jangan sampai kita kehilangan kesetiaan kepada Tuhan.
H — HIDUP DALAM HARAPAN KARENA ALLAH TETAP SETIA
Inilah
klimaks dari semuanya.
Manusia
bisa gagal.
Ruben
gagal.
Suku-suku
Israel gagal.
Pemimpin
bisa gagal.
Generasi
bisa gagal.
Tetapi
Allah tidak pernah gagal.
Janji-Nya
tetap berdiri.
Kesetiaan-Nya
tidak berubah.
Dan
puncak kesetiaan Allah dinyatakan dalam Yesus Kristus.
Karena
itu pengharapan kita bukan pada kesetiaan manusia, tetapi pada:
Allah yang setia.
BENANG MERAH SEJARAH
S
— Setia pada Perjanjian
↓
E — Eling akan Sumber Berkat
↓
J — Jangan Takut, Berserulah kepada Allah
↓
A — Andalkan Tuhan dalam Kemenangan
↓
R — Rawat Kesetiaan Setelah Diberkati
↓
A — Akibat Ketidaksetiaan adalah Kehancuran
↓
H — Hidup dalam Harapan karena Allah Tetap Setia
SEJARAH 1 TAWARIKH 5:
“Allah
tidak pernah kehilangan kendali atas sejarah, tetapi manusia harus belajar
bahwa berkat perjanjian harus dijawab dengan kesetiaan.”
🔥 KALIMAT MENGGUNCANG MIMBAR
“Jangan
hanya minta Tuhan memberkati hidupmu; mintalah Tuhan menjaga hatimu setelah
hidupmu diberkati!”
“Jangan
bangga karena pernah menang bersama Tuhan. Pastikan setelah kemenangan itu
engkau masih berjalan bersama Tuhan!”
“Kita
tidak dipanggil hanya untuk menerima berkat Tuhan, tetapi untuk menjadi
generasi yang setia kepada Tuhan!”
SEJARAH 1 TAWARIKH 5
BERKAT
→ IMAN → KEMENANGAN → KESETIAAN → PERINGATAN → PENGHARAPAN
Allah
tetap memegang janji-Nya.
Maka mari kita tetap memegang iman kepada-Nya.
Tema: Allah Tetap Memegang
Janji-Nya, Tetapi Berkat Perjanjian Menuntut Kesetiaan
Teks: 1 Tawarikh 5
Tujuan: Menolong jemaat melihat
bahwa Allah setia pada janji-Nya, tetapi umat harus hidup dalam kesetiaan agar
berkat perjanjian dapat dinikmati.
📌 Pendahuluan (5 menit)
- Ilustrasi: seorang ayah
yang tetap menabung untuk anaknya, tetapi anak itu hanya bisa menikmati
tabungan bila ia bertanggung jawab.
- Hubungkan dengan Ruben:
meski Allah setia, dosa pribadi membuat ia kehilangan hak sulung.
- Pertanyaan pembuka: Apakah
janji Allah otomatis berlaku tanpa kesetiaan umat?
📖 Eksposisi Teks (10 menit)
- Ayat 1–2: Ruben kehilangan hak
sulung karena dosa → hak itu diberikan kepada Yusuf, Yehuda menjadi suku
raja.
- Ayat 3–17: Silsilah Ruben dan Gad
→ Allah tetap mencatat mereka meski ada kegagalan.
- Ayat 18–22: Perang melawan Hagri →
kemenangan karena berseru kepada Allah.
- Ayat 23–26: Pembuangan ke Asyur →
ketidaksetiaan membawa hukuman.
👉 Struktur: Hak hilang →
Doa membawa kemenangan → Ketidaksetiaan membawa pembuangan.
📚 Pelajaran Rohani (15 menit)
- Dosa membawa kehilangan: Ruben kehilangan hak
sulung.
- Doa membawa kemenangan: suku-suku menang
melawan Hagri karena berseru kepada Allah.
- Kesetiaan menentukan
masa depan:
ketidaksetiaan membawa pembuangan.
- Allah berdaulat atas
sejarah:
Tuhan mengatur siapa yang berkuasa dan siapa yang jatuh.
👉 Prinsip: Allah setia pada
janji-Nya, tetapi berkat perjanjian menuntut kesetiaan umat.
✨ Aplikasi Praktis (7 menit)
- Dalam keluarga:
kesetiaan pada janji membawa berkat generasi.
- Dalam gereja: doa
bersama membawa kemenangan rohani.
- Dalam masyarakat:
ketidaksetiaan pada firman membawa kehancuran.
- Dalam pribadi: jangan
sia-siakan janji Allah dengan hidup dalam dosa.
🎯 Penutup (3 menit)
- Tekankan: Allah tidak
pernah ingkar janji, tetapi umat harus setia agar janji itu nyata dalam
hidup.
- Doa penutup: memohon
agar jemaat hidup dalam kesetiaan, sehingga berkat perjanjian Allah nyata
dalam keluarga, gereja, dan masyarakat.
"Allah
Tetap Memegang Janji-Nya, Tetapi Berkat Perjanjian Menuntut Kesetiaan."
✝️ Akronim SEJARAH
S – Sulung Ruben kehilangan hak
- Ruben kehilangan hak
kesulungan karena dosa. 👉 Hak kesulungan Ruben
E – Eksistensi janji Allah tetap nyata
- Hak sulung diberikan
kepada Yusuf, Yehuda menjadi suku raja. 👉 Janji Allah tetap
nyata
J – Jemaat menang karena doa
- Suku Ruben, Gad, dan
Manasye menang melawan Hagri karena berseru kepada Allah. 👉 Doa membawa
kemenangan
A – Allah berdaulat atas sejarah
- Allah mengatur siapa
yang berkuasa dan siapa yang jatuh. 👉 Allah berdaulat atas
sejarah
R – Runtuh karena ketidaksetiaan
- Ketidaksetiaan membawa
pembuangan ke Asyur. 👉 Pembuangan Asyur
A – Aplikasi bagi umat Allah
- Kesetiaan adalah syarat
menikmati berkat perjanjian. 👉 Kesetiaan umat Allah
H – Harapan dalam Kristus
- Kristus sebagai Anak
Sulung sejati yang menanggung dosa dan memberi berkat perjanjian baru. 👉 Harapan dalam
Kristus
📊 Ringkasan Akronim SEJARAH
|
Huruf |
Isi |
Pesan |
|
S |
Sulung
Ruben kehilangan hak |
Dosa
membawa kehilangan |
|
E |
Eksistensi
janji Allah |
Allah
tetap setia |
|
J |
Jemaat
menang karena doa |
Doa
membawa kemenangan |
|
A |
Allah
berdaulat atas sejarah |
Tuhan
mengatur segalanya |
|
R |
Runtuh
karena ketidaksetiaan |
Hukuman
pembuangan |
|
A |
Aplikasi
bagi umat |
Kesetiaan
syarat berkat |
|
H |
Harapan
dalam Kristus |
Kristus
sumber janji sejati |
NASKAH KHOTBAH: 1 TAWARIKH 5
Tema: Allah Tetap Memegang
Janji-Nya, Tetapi Berkat Perjanjian Menuntut Kesetiaan
Tujuan: Jemaat memahami bahwa kesetiaan Allah tidak
bergantung pada kita, tetapi untuk menikmati berkat perjanjian itu, Allah
menuntut kesetiaan kita.
Ayat Kunci: 1 Tawarikh 5:20, 25
"Dan mereka mendapat
bantuan... sebab mereka percaya kepada-Nya. Tetapi... mereka berubah setia
terhadap Allah..."
PENDAHULUAN [5 Menit]
Shalom.
Kalau kita baca 1 Tawarikh 5, jujur saja, kita akan cepat
bosan. Nama-nama yang sulit: Enoh, Palu, Hezron, Karmi. Suku-suku yang jauh:
Ruben, Gad, setengah Manasye. Daerah yang tidak kita kenal: Basan, Halah,
Habor.
Tapi jangan salah. Penulis Tawarikh tidak pernah menulis
silsilah tanpa tujuan.
Ingat konteksnya: Tawarikh ditulis untuk orang Israel
yang baru pulang dari pembuangan Babel. Bait Allah sudah hancur. Tanah sudah
direbut orang lain. Identitas mereka hancur. Mereka bertanya: Apakah Allah
masih ingat janji-Nya kepada Abraham? Apakah kami masih umat-Nya?
Lalu penulis Tawarikh membuka arsip keluarga. Dan di
pasal 5 ini, dia sengaja memilih 3 suku yang paling bermasalah: suku yang
tinggal di luar Tanah Perjanjian, di seberang Sungai Yordan. Suku yang paling
duluan dibuang oleh Asyur dan tidak pernah kembali. Suku yang
"hilang".
Kenapa cerita mereka ditulis? Untuk menjawab pertanyaan
kita hari ini: Kalau saya gagal, apakah janji Allah ikut gagal? Kalau Allah
setia, apakah saya bisa hidup seenaknya?
Dari pasal ini kita belajar satu kalimat: Allah Tetap Memegang Janji-Nya, Tetapi Berkat Perjanjian
Menuntut Kesetiaan.
Mari kita lihat tiga kebenaran dari pasal ini.
POIN 1: JANJI ALLAH TIDAK GAGAL KARENA KEGAGALAN MANUSIA [10
Menit]
Baca ayat 1-2
"Anak-anak Ruben...
dialah anak sulung, tetapi karena ia telah melanggar kesucian petiduran
ayahnya, maka hak kesulungannya diberikan kepada keturunan Yusuf... sekalipun
Yehudalah yang menjadi yang terkuat... dan dari padanyalah berasal seorang
raja, tetapi hak kesulungan itu ada pada Yusuf."
Suku Ruben seharusnya jadi yang utama. Dia anak sulung.
Dalam budaya Israel, anak sulung dapat warisan dua kali lipat dan menjadi
pemimpin rohani keluarga.
Tapi di Kejadian 35:22, Ruben tidur dengan Bilha, gundik
ayahnya. Satu dosa seksual, satu malam kebodohan, menghancurkan hak
kesulungannya untuk selamanya.
Saudara, ini mengerikan. Dosa itu punya konsekuensi
sejarah.
Tapi perhatikan apa yang dilakukan Allah. Apakah karena
Ruben gagal, janji Allah kepada Yakub ikut gagal? Tidak.
Allah tidak panik. Dia hanya memindahkan hak itu. Hak
kesulungan - berkat ganda - diberikan kepada Yusuf melalui dua anaknya, Efraim
dan Manasye. Dan hak kepemimpinan - tongkat kerajaan - diberikan kepada Yehuda.
Kenapa Yehuda? Karena dari Yehudalah akan lahir Daud, dan
dari Daudlah akan lahir Yesus Kristus.
Ini adalah Injil pertama di dalam 1 Tawarikh 5. Kegagalan
Ruben tidak menggagalkan rencana penebusan Allah. Allah tetap memegang
janji-Nya untuk mendatangkan Raja Penyelamat dari Yehuda.
Ilustrasi: Seperti seorang kondektur kereta api. Satu gerbong
rusak - Ruben rusak. Apakah kereta berhenti? Tidak. Kondektur hanya memindahkan
penumpang ke gerbong lain - Yusuf dan Yehuda - dan kereta terus berjalan menuju
stasiun akhir: Kristus.
Aplikasi: Mungkin hari ini ada di antara kita yang merasa
seperti Ruben. Gagal. Jatuh dalam dosa. Merasa sudah tidak layak dipakai Tuhan.
Dengarlah: kegagalanmu tidak membatalkan kesetiaan Allah. Kalau engkau anak
sulung yang gagal, Allah masih punya Yehuda. Anugerah-Nya lebih besar dari
kegagalanmu. Janji-Nya tetap jalan.
Tapi ingat juga sisi kedua: Ruben tetap kehilangan
berkatnya. Allah tetap setia, tapi Ruben tidak menikmati berkat itu. Ini
membawa kita ke poin kedua.
POIN 2: BERKAT PERJANJIAN DINIKMATI KETIKA KITA BERSANDAR KEPADA
ALLAH [12 Menit]
Baca ayat 18-22
Ini adalah bagian paling indah di pasal yang membosankan
ini.
Dicatat: "Dari bani Ruben, Gad, dan setengah suku
Manasye ada 44.760 orang yang sanggup berperang."
Mereka menghadapi musuh: orang Hagri, Yetur, Nafish,
Nodab. Suku-suku padang gurun yang kejam, ahli perang gerilya. Secara jumlah
dan pengalaman, Israel kalah.
Lalu apa yang mereka lakukan? Ayat 20:
"Mereka mendapat
bantuan... sebab mereka berseru kepada Allah dalam peperangan itu. Maka Allah
mengabulkan permintaan mereka, sebab mereka percaya kepada-Nya."
Perhatikan urutannya, ini teologi perang Tawarikh:
1.
Mereka berperang -
mereka tidak malas.
2.
Mereka berseru - wayyizza'qu - berteriak minta tolong.
3.
Mereka percaya - batach - bersandar sepenuhnya.
4.
Allah menolong -
peperangan itu dari Allah.
Ayat 21: mereka merampas 50.000 unta, 250.000 kambing
domba, 2.000 keledai. Kemenangan total.
Saudara, penulis Tawarikh mau bilang kepada orang buangan
yang baru pulang: Nenek moyangmu yang tinggal jauh dari Bait Suci saja, ketika
mereka berseru, Allah dengar. Apalagi kamu yang sekarang ada di Yerusalem!
Allah yang sama yang menolong 44.760 orang itu masih
memegang janji-Nya hari ini.
Ilustrasi: Kita sering seperti orang yang punya asuransi
kesehatan yang lengkap, tapi ketika sakit, kita tidak pernah telepon
asuransinya. Kita cari pinjaman ke sana kemari. Padahal tinggal berseru, klaim
itu cair. Doa adalah klaim atas janji Allah.
Kapan terakhir kita benar-benar berseru kepada Allah
dalam peperangan kita? Peperangan ekonomi, peperangan rumah tangga, peperangan
melawan dosa? Atau kita hanya mengandalkan strategi kita sendiri?
Berkat perjanjian itu tersedia, tapi hanya dinikmati oleh
orang yang bersandar.
Namun, kisah ini tidak berakhir indah. Dan ini peringatan
keras bagi kita.
POIN 3: BERKAT PERJANJIAN HILANG KETIKA KITA TIDAK SETIA [10
Menit]
Baca ayat 23-26
"Tetapi mereka berubah
setia terhadap Allah... dan berzinah dengan mengikuti allah-allah
bangsa-bangsa... Sebab itu Allah Israel membangkitkan semangat Pul... dan
Tilgat-Pilneser... dan membawa mereka ke dalam pembuangan..."
Kata "berubah setia" di ayat 25 dalam bahasa
Ibrani adalah ma'al. Ini bukan dosa biasa. Ini adalah pengkhianatan
perjanjian. Seperti istri yang berzinah terhadap suaminya. Dalam Kitab
Tawarikh, setiap kali kata ma'al muncul, pasti
diikuti pembuangan.
Suku yang sama. Orang yang sama yang pernah berdoa dan
menang di ayat 20, sekarang menyembah berhala di ayat 25.
Kenapa? Karena mereka tinggal di perbatasan. Ayat 23
bilang daerah mereka luas, dari Basan sampai Gunung Hermon. Mereka kaya, subur,
dekat dengan bangsa-bangsa kafir. Pelan-pelan mereka kompromi. Mereka kawin
campur. Mereka ikut ritual penyembahan.
Dan Allah yang tadi menolong mereka, sekarang
membangkitkan musuh mereka.
Perhatikan kalimatnya: "Allah membangkitkan semangat
raja Asyur." Allah berdaulat bahkan atas raja kafir untuk mendisiplin
anak-anak-Nya.
Mereka adalah suku Israel pertama yang dibuang pada tahun
732 SM. Dan sampai hari ini mereka tidak pernah kembali. Mereka menjadi bagian
dari "10 suku yang hilang".
Inilah kebenaran yang pahit: Allah tetap memegang janji-Nya untuk menghakimi
ketidaksetiaan, sama seperti Dia memegang janji-Nya untuk memberkati kesetiaan.
Kita sering mau ayat 20 tanpa ayat 25. Kita mau ditolong
Allah, tapi kita tidak mau setia kepada Allah. Kita mau berkat perjanjian, tapi
kita terus berzinah rohani dengan berhala modern kita: uang, jabatan,
pornografi, gosip, kepahitan.
Jemaat di Atambua, kita tinggal di perbatasan juga.
Perbatasan negara, perbatasan budaya. Godaan untuk kompromi sangat besar. 1
Tawarikh 5 bertanya: apakah kita akan jadi seperti ayat 20 atau ayat 25?
PENUTUP [3 Menit]
Mari kita simpulkan.
1 Tawarikh 5 mengajarkan kita Injil yang seimbang:
Karena Kristus yang datang
dari Yehuda, janji Allah tidak pernah gagal. Sekalipun kita seperti Ruben yang gagal, anugerah
Allah tetap berjalan. Keselamatan kita tidak bergantung pada kesempurnaan kita,
tapi pada kesetiaan Kristus. Itu anugerah.
Tetapi karena kita sudah
menerima anugerah itu, Allah menuntut kesetiaan. Berkat itu tidak otomatis. Kita harus seperti tentara
di ayat 20: berseru dan percaya setiap hari. Dan kita harus waspada agar tidak
seperti ayat 25: berubah setia.
Allah tetap memegang janji-Nya. Pertanyaannya: apakah
kita tetap memegang kesetiaan kita kepada-Nya?
Ada dua jenis orang di gereja ini pagi ini:
Yang pertama, seperti Ruben. Engkau merasa gagal dan
berpikir janji Allah sudah hangus untukmu. Hari ini Tuhan bilang: Janji-Ku
tetap. Datang kembali. Ketuk pintu anugerah.
Yang kedua, seperti suku di ayat 20 yang sudah lama tidak
berdoa, dan pelan-pelan mulai kompromi seperti ayat 25. Hari ini Tuhan
memanggilmu untuk kembali berseru dan bertobat sebelum pembuangan datang.
Mari kita berdoa.
Doa Penutup:
"Bapa, terima kasih karena Engkau Allah yang memegang janji, bahkan ketika
kami gagal seperti Ruben. Terima kasih untuk Yehuda, untuk Yesus Kristus, Raja
yang tidak pernah gagal. Ampuni kami yang sering mengandalkan kekuatan sendiri
dan tidak berseru kepada-Mu. Dan ampuni ketidaksetiaan kami yang sering
berzinah dengan dunia ini. Roh Kudus, bawa kami kembali untuk hidup setia,
supaya kami menikmati penuh berkat perjanjian-Mu. Dalam nama Yesus, Amin."
Ayat untuk direnungkan
minggu ini: 1
Tawarikh 5:20b - "sebab mereka percaya kepada-Nya."
"Allah Tetap Memegang Janji-Nya, Tetapi Berkat
Perjanjian Menuntut Kesetiaan."
Bisa Anda bawakan 35-40 menit.
KHOTBAH AKRONIM: SEJARAH
1 Tawarikh 5
Ayat Emas: 1 Tawarikh 5:20,25 - "Sebab mereka percaya
kepada-Nya... Tetapi mereka berubah setia..."
Pendahuluan:
Kenapa pasal ini disebut SEJARAH? Karena penulis Tawarikh tidak menulis daftar
nama, dia menulis sejarah rohani. Sejarah 3 suku di seberang Yordan ini adalah
sejarah kita juga. Ada yang awalnya gagal, pernah menang, lalu akhirnya hilang.
Semua dirangkum dalam satu kata: SEJARAH.
S - Status Sulung Hilang Karena Dosa [Ay. 1-3]
"Ruben anak sulung...
tetapi karena ia telah melanggar kesucian petiduran ayahnya, maka hak
kesulungannya diberikan kepada Yusuf..."
Ruben punya status tertinggi: anak sulung. Seharusnya
dapat double porsi berkat.
Tapi status tidak menjamin berkat. Satu dosa - tidur
dengan Bilha, gundik ayahnya - menghapus hak itu selamanya.
Pelajaran: Di gereja, jangan andalkan status. Jangan andalkan "Saya
sudah Kristen sejak lahir, saya anak pendeta, saya pelayan lama." Allah
melihat kesetiaan, bukan kartu anggota. Dosa yang tidak dibereskan akan
menghapus berkat.
E - Empat Puluh Ribu Tentara Yang Berseru [Ay. 18-20a]
"Dari bani Ruben, Gad,
setengah Manasye ada 44.760 orang yang sanggup berperang..."
Ini bukan suku yang lemah. Mereka tentara profesional.
Kaya ternak. Kuat.
Tapi ketika menghadapi orang Hagri di padang gurun,
mereka tidak mengandalkan 44.760 pedang itu. Ayat 20 bilang: "Mereka berseru kepada
Allah dalam peperangan itu."
Kata berseru di sini za'aq - teriakan
orang yang terjepit, yang tahu dia mau mati kalau tidak ditolong.
Pelajaran: Kehebatan tanpa doa adalah kesombongan. Banyak
orang Kristen hari ini kuat dalam kerja, kuat dalam bisnis, kuat dalam
pelayanan, tapi lemah dalam doa. Kemenangan sejati bukan karena jumlah pasukan,
tapi karena lutut yang berseru.
J - Janji Allah Tetap Jalan Terus Lewat Yehuda [Ay. 1-2]
Ini jantung teologinya.
Ruben gagal. Apakah rencana Allah gagal? Tidak.
Penulis langsung menyelipkan di ayat 2: "Yehudalah yang
menjadi yang terkuat... dan dari padanyalah berasal seorang raja."
Hak sulung pindah ke Yusuf, tongkat kerajaan pindah ke
Yehuda. Dan dari Yehudalah lahir Daud, dan dari Daud lahir Yesus.
Inilah SEJARAH anugerah: Kegagalan manusia tidak bisa membatalkan janji
Allah.
Ruben boleh gagal, tapi Mesias tetap akan datang dari
Yehuda. Ini menunjuk kepada Kristus.
Kalau Anda hari ini merasa seperti Ruben - gagal, jatuh,
malu - ingat: janji Allah tidak berhenti di kegagalanmu. Karena Yesus dari
Yehuda sudah datang, ada jalan kembali.
A - Andalan Iman Mendatangkan Kemenangan [Ay. 20b-22]
"...Maka Allah
mengabulkan permintaan mereka, sebab mereka percaya kepada-Nya... Sebab
peperangan itu adalah dari Allah."
Ini rumusnya: Berseru + Percaya = Kemenangan dari Allah.
Ayat 21-22 mencatat rampasan yang luar biasa: 50.000
unta, 250.000 kambing domba. Itu bukan hasil perang biasa, itu berkat
perjanjian.
Penulis Tawarikh memberi komentar: Peperangan itu milik
Allah. Kalau Allah yang berperang untukmu, siapa yang bisa melawanmu?
Aplikasi: Apa peperanganmu hari ini? Utang? Sakit penyakit?
Anak yang memberontak? Berhenti berperang sendiri. Jadikan peperangan itu milik
Allah. Andalan imanmu harus pindah dari rekeningmu ke janji-Nya.
R - Runtuhnya Kesetiaan Karena Kompromi [Ay. 23-25]
Ini bagian paling tragis.
Tentara yang sama yang menang karena berdoa di ayat 20,
sekarang jatuh di ayat 25: "Mereka berubah setia terhadap Allah nenek moyang mereka
dan berzinah dengan mengikuti allah-allah bangsa-bangsa."
Kata ma'al - berubah
setia - artinya pengkhianatan seperti istri selingkuh dari suami.
Kenapa bisa runtuh? Karena mereka tinggal di Basan,
daerah subur di perbatasan. Mereka kaya, aman, dan dekat dengan orang kafir.
Lama-lama mereka kompromi. Kawin campur, ikut pesta penyembahan berhala.
Pelajaran: Awal yang baik tidak menjamin akhir yang baik. Suku
ini mulai dengan iman, berakhir dengan zinah rohani.
Kita di perbatasan Atambua, perbatasan iman dan dunia,
sangat mudah kompromi. Hari Minggu menyembah Yesus, hari Senin menyembah uang,
jabatan, dan nafsu. Allah menyebutnya zinah rohani.
A - Allah Berdaulat Membangkitkan Musuh Untuk Mendisiplin [Ay.
26]
"Sebab itu Allah Israel
membangkitkan semangat Pul dan Tilgat-Pilneser, raja Asyur, dan membawa mereka
ke dalam pembuangan..."
Perhatikan subjeknya: ALLAH yang membangkitkan raja
Asyur.
Allah yang sama yang tadi mengirimkan pertolongan,
sekarang mengirimkan penghukuman. Allah tidak pernah kehilangan kendali.
Mereka dibuang ke Halah, Habor, Hara. Mereka menjadi 10
suku terhilang yang tidak pernah kembali.
Ini membuktikan: Allah serius dengan kekudusan
perjanjian. Dia Allah yang setia memberkati, tapi juga setia menghakimi
ketidaksetiaan.
Peringatan: Jangan main-main dengan dosa karena berpikir
"Allah kan kasih." Kasih Allah yang sama akan mendisiplin untuk
membawa kita kembali.
H - Harapan Kekal Hanya Ada di Dalam Kristus [Ay. 2]
Pasal ini berakhir dengan pembuangan. Sedih. Tapi pasal
ini dimulai dengan harapan: Yehuda.
Di tengah sejarah yang penuh kegagalan Ruben, kemenangan
yang sementara, dan pembuangan yang tragis, penulis menyisipkan satu nama:
Yehuda, tempat asal Sang Raja.
SEJARAH suku-suku timur berakhir di Asyur. Tapi SEJARAH
keselamatan tidak berakhir di situ. Ia terus berjalan sampai ke Betlehem,
sampai seorang bayi dari Yehuda lahir, Yesus Kristus.
Dia adalah Anak Sulung yang tidak pernah gagal seperti
Ruben.
Dia adalah Panglima Perang yang berperang untuk kita dan menang.
Dia adalah Raja dari Yehuda yang memegang janji itu selamanya.
Jadi, Allah tetap memegang janji-Nya di dalam Kristus,
tetapi untuk menikmati berkat perjanjian itu hari ini, Dia menuntut kesetiaan
kita.
Penutup - 2 Pertanyaan:
1.
Apakah Anda hari ini
seperti S - merasa
status sulungmu hilang karena dosa? Datanglah kepada Yehuda, kepada Yesus.
Janji-Nya masih tersedia.
2.
Apakah Anda seperti R - yang dulu pernah menang karena
doa, tapi sekarang pelan-pelan kompromi dan runtuh? Hari ini Allah memanggilmu
kembali setia sebelum disiplin yang lebih berat datang.
Jangan hanya tahu SEJARAH, hiduplah dalam kesetiaan
kepada Sang Pemegang Sejarah.
Amin.
